Selasa, 24 Februari 2009

nyata!!!



Derita Panjang Nelayan Pantura

Tanggal :

19 Jan 2009

Sumber :

Sinar Harapan

Prakarsa Rakyat,

Oleh
Parluhutan Gultom

TANGERANG-Suasana wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura), persisnya di Kampung Sukawali, Desa Rawa Saban, Kecamatan Paku Haji, Kabupaten Tangerang, Jumat (16/1) siang, tampak lengang.
Hanya ada beberapa warga asyik ngobrol di saung (gubuk terbuka) yang berdiri di pinggiran jalan utama. Seratus meter dari lokasi itu, sekitar 500 perahu motor nelayan tampak terparkir.
Ya, sejak dua pekan terakhir, bibir pantai utara mulai dijejali oleh ratusan kapal nelayan. Cuaca buruk yang terjadi belakangan ini membuat ribuan nelayan tak kuasa bergerak ke laut lepas.
Tak pelak, kondisi itu pun membuat ekonomi nelayan menjadi terpuruk. Bahkan untuk bertahan hidup, para nelayan terpaksa berutang dengan sejumlah warung nasi yang ada.
“Cuaca lagi tak bersahabat. Gelombang besar pertanda laut sedang pasang. Daripada karam, lebih baik kami menunggu sampai cuaca kembali normal,” kata Haerun Kamal, salah seorang nelayan yang mengaku sudah menganggur sejak 15 hari terakhir.
Uang hasil melaut terakhir dua pekan lalu, kini sudah tak tersisa lagi. Agar bisa bertahan, Haerun Kamal terpaksa mengutang makan di warung nasi langganannya. “Biasanya kami seminggu berada di laut dan dua hari di darat. Sekali melaut, bisa menghasilkan Rp 300.000. Kami berharap badai segera berlalu,” katanya.
Keluhan senada juga dilontarkan Sugono, nelayan lainnya. Nelayan muda ini bahkan terpaksa menunda pernikahannya akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
“Harusnya saya menikah akhir Februari ini. Tapi karena cuaca buruk, saya jadi tidak bisa melaut. Alhasil, pernikahan terpaksa ditunda dulu sampai April karena biaya kurang,” ujar Sugono polos.
Keluhan Haerun Kamal dan Sugono hanya bagian kecil dari derita yang kini dialami ribuan nelayan Pantura, Tangerang. Selain persoalan cuaca yang tak menentu, para nelayan kini juga masih dihadapkan dengan persoalan bahan bakar minyak (BBM).
Mereka berharap, pemerintah bisa lebih memerhatikan nasib nelayan. Harapan itu semata demi perubahan nasib menjadi yang lebih baik.

Puting Beliung
Sebelumnya, puluhan rumah warga di pesisir Utara Tangerang rusak diterjang angin puting puting beliung. Puluhan rumah warga yang rusak berada di Kampung Kebon Cobek dan Kampung Bebulak, yang lokasinya berada persis di bibir pantai laut Jawa. Mayoritas kerusakan melanda bagian atap rumah warga.
“Kejadian seperti ini sudah menjadi langganan kami setiap kali cuaca memburuk. Maklumlah, lokasi perkampungan ini sangat dekat dengan pantai. Namun demikian, sebagian warga yang rumahnya mengalami kerusakan cukup parah sangat mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah,” kata Ahmad Yani, warga setempat.
Kepala Desa Muara Ahmad Supriyatno mengatakan, rumah warga yang rusak sebanyak 20 unit. Namun, tidak ada warga yang mengungsi. Bahkan pagi ini, warga sudah memperbaiki kembali atap rumahnya yang rusak.
“Hanya ada beberapa rumah yang belum diperbaiki karena atap rumah mereka yang terbuat dari asbes rusak parah. Tapi sebagian besar rumah sudah diperbaiki karena hanya mengalami kerusakan ringan,” kata Supriyatno. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar